Beberapa hari belakangan ini, beberapa pimpinan perjuangan Papua Merdeka menulis tentang ketergantungan rakyat Papua terhadap kolonial Indonesia, umumnya agar tidak mengkonsumsi makanan kolonial (nasi).
Dengan alasan mempertahankan pangan lokal sebagai basis ekonomi rakyat.
Namun, terlalu idealis kalau kemudian kita tidak melihat secara luas. Persoalan tentang pergesan kebudayaan, matinya pangan lokal, ketergantungan dsb. tidak hanya dihadapi masyarakat adat / lokal di Papua, tetapi juga masyarakat di sejumlah negara dunia ketiga. Bahkan hingga di tingkatan negara.
Bahwa yang perluh diperhatikan adalah prosuksi, distribusi dan konsumsi. Tiga hal ini menentukan bagaimana ekonomi sebagai basis (landasan) dari budaya, relasi sosial dan sebagainya itu dikendalikan oleh kaum kapitalis didukung pemerintahan yang pro terhadapnya.
Di zaman teknologi yang sudah maju ini, dalam sehari bisa memproduksi kebutuhan manusia atau makanan dalam jumlah yang banyak. Dan distribusikan dengan cepat menggunakan kereta, pesawat, kapal dalam jumlah yang besar (tapi untuk dijual

)
Dan tentunya, konsumen akan lebih memilih makanan yang diproduksi secara cepat dan mudah didapat. Dan didukung mobilitas distribusi dan pasar yang bagus.
Di Indonesia misalnya, pemerintahannya menginpor beras dari Vietnam dan Jepang yang diproduksi dengan peralatan canggi. Sedangkan petani Indonesia yang masih konvensional kalah bersaing di pasar kapitalis. Selain itu usaha-usaha rakyat kecil dimatikan dengan hadirnya Alfamart dan Indomart berdekatan.
Jika dibuat perbandingan, dalam satu jam satu mesin bisa memproduksi 100-200kg beras, sedangkan ubi, sagu atau kasbi ditanam, tunggu 4-5 bulan untuk panen dengan peralatan sederhana, konsumsi hanya sehari dan tentunya memakan waktu yang lama (tidak ada teknologi untuk disimpan), untuk dijual ke pasar dibutuhkan transportasi atau jalan kaki dalam waktu yang lama.
Dengan demikian, mengajak rakyat yang secara intelektual sudah maju daripada perkakas produksi dia punya itu suatu tindakan bunuh diri.
Bahwa, bagaiamana pun teknologi tidak bisa ditolak. Yang dibutuhkan adalah pemerintahan yang pro rakyat, mentransfer teknologi ke tangan rakyat dengan manajemen sosialis. Maka, PEMBEBASAN NASIONAL PAPUA BARAT adalah kebutuhan mendesak. Salah satu syarat adalah bangun PERSATUAN NASIONAL.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Sebuah Kritik Pemahaman Yang Salah Tentang Kubudayaan dan Pangan"
Post a Comment