Salah satu syarat dari pembebasan nasional Papua Barat adalah massa yang terorganisir. Terorganisir dalam organda, paguyuban, minat, komunitas hingga organisasi gerakan. Tentu setiap organisasi memiliki visi dan misi tersendiri. Misalnya komunitas pecinta alam yang peduli lingkungan atau komunitas motor dengan aktivitasnya tersendiri.
Terkhusus organisasi mahasiswa menjadi penting untuk ditelaah. Sebab berorganisasi di masa mahasiswa fase menentukan untuk masa depan. Di organisasi mahasiswalah kaum muda dibentuk karakter yang umumnya dikenal dengan mencetak pemimpin.
Menjadi pemimpin itu enak, apalagi mrnjadi pempin di dalam kolonialisme kemana-mana dihormati, disanjung pendeknya dihormat bak raja. Namun ada satu hal yang penting untuk dipilih lebih lanjut. Menjadi pemimpin untuk penindas atau rakyat tertindas. Penindas yang dimaksud adalah elit kapital birokrat kulit hitam dan politisi yang turut mempertahankan sistem kolonialisme di tanah air tercinta Papua Barat. Sedangkan tertindas adalah massa rakyat luas-- buruh, petani, nelayan, masyarakat adat, perempuan dan mahasiswa. Klas-klas dalam masyarakat Papua yang mengalami langsung penghisapan.
Sekali lagi, tentu keputusan ini tidak mudah! Apalagi memilih menjadi pemimpin dalam kolonialisme menawarkan banyak kemewahan. Sebaliknya memilih bergabung dengan massa rakyat artinya siap menghadapi konsekuensi hidup melarat.
Untuk itu, yang penting untuk adalah dijawab untuk apa kita memilih dan bagaimana menghadapi konsekuensi ini. Memilih berjuang bersama rakyat adalah panggilan sejarah, moral dan rasional bahwa kenyataan hari ini dibawah kolonialisme rakyat Papua terus dicuri hak-haknya, dibungkam, dipenjara, tidak berproduksi secara biologis maupun ekonomi dibantai secara sadar, terustruktur dan sistematis. Tentu saja kondisi kolonialisme ini akan berdampak juga pada kita sebagai individu. Maka, dengan sadar, sabar dan rendah hati turut serta dalam perjuangan mengakhiri kolonialisme dan militerisme yang didukung kapitalisme global.
Memulai di masa mahasiswa adalah fase penting untuk tetap konsisten dalam berjuang. Dengan keyakinan penuh bahwa sistem tua itu akan berakhir ketika ada keterlibatajln kita di dalam perlawanan. Bukan menunggu siapa yang berjuang. Terus belajar secara kritis dan dalam praktis dan proses reflektif agar mendapat watak ilmiah. Sehingga keterlibatan kita dalam perjuangan bukan karena moral (sedih, dendam dsb). tapi karena dimana pun ada penindasan terhadap umat manusia harus dilawan.
Dengan demikian, setiap belajar dan praksis berorientasi pada massa rakyat. Dengan kita mengambil bagian, satu per satu merapat ke barisan kita. Semakin lama, semakin banyak untuk mewujudkan panggilan sejarah. Papua Merdeka!!
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Mengubah Orientasi Organisasi Kita (Mahasiswa Papua)"
Post a Comment