"Kerja merupakan syarat dasar bagi kehidupan manusia ... maka kegiatan kerja inilah yang menciptakan manusia itu sendiri. - Fredirch Egels.Manusia Papua telah hidup ribuan tahun sebelum kedatangan bangsa lain. Menurut penelitian manusia Papua di Pegunungan menemukan sistem sendiri, sebelum bangsa lain di Asia menemukan sistem pertanian. Dibuat alat / perkakas kerja intuk menunjang kerja, dimanfaatkan dari alam sekitar. Juga dibentuk sistem sosial, politik, bahasa dan kesenian tradisional. Yang terakhir misalnya, lagu diciptakan khusus untuk penyemangat kerja, untuk kesuburan tanah dari gunung atau dusun mereka. Dan ada lagu khusus untuk saat kerja, siang, malam, sore dll. Jadi, tidak sembarangan.
Juga terciptakan satu sangsi sosial bagi seseorang yang tidak tahu kerja 'Eki habup" (tangan dingin).
Dalam kondisi ekonomi yang sederhana dan setara dan kondisi alam yang tidak menentu ini pun merawat warisan kehidupa manusia Papua selama berabad-abad lamanya.
Kehadiran misionaris Eropa memberikan parang, skop, Kampak sebagai penunjang kerja. Perbedaannya dengan Indonesia, pemerintah Indonesia terutama setelah Otsus awal dari dibuatnya manusia menjadi bangsa yang tidak bisa buat apa-apa selain mengemis dan bergantung. Pengalihan manusia pencipta menjadi manusia pasif. Selain itu, pemerintah Indonesia menciptakan mitos yang namanya 'menjadi tuan di negeri sendiri', dengan sistematis orang Papua dibuat untuk menjadi kuli tinta (birokrasi) dan manusia pragmatis melalui politik praktis.
Tahun 2016 lalu, Dubes Inggris untuk Indonesia setelah kunjungannya ke Jayapura pernah menulis di Twitter "kenapa tidak ada sopir taksi orang asli Papua?". Pertanyaan ini berarti bahwa tempat-tempat inti dari ekonomi produksi dan alokasi dipusat di luar Papua. Sedangkan Papua hanya dijadikan tempat mengambil bahan mentah. Distribusi, jalur distribusi dan distributor dikuasai oleh orang non Papua. Sedangkan orang Papua hanya dijadikan konsumen pasif. Bersamaan juga dimunculkan stigma; bodoh, pemalas kerja dll. Padahal kalau kita periksa, apa benar sistem pendidikan yang ada di Papua? Selama 20 tahun Otsus berjalan berada orang yang dikembangkan untuk mengoperasikan mesin. Apakah ada pengalihan teknologi ke tangan rakyat Papua? Ribuan mahasiswa yang diwisudakan dari kampus-kampus di Papua diizinkan memegang alat produksi Freeport misalnya. Tapi percuma. Freeport membangun gedung milik UI, bukan membagun kampus di Papua.
*****
Dalam kondisi ketergantungan dan konsumtif itu, tawaran pemekaran menjadi tawaran ampuh dan mungkin saja sebagian orang menerima untuk merekrut banyak sarjana dalam mengisi pos-pos birokrasi dan kursi politik nantinya. Sementara investasi global masuk besar-besaran di bawah kontrol Aparat. Tenaga kerja didatangkan dari luar Papua. Untuk merebut posisi birokrasi dan politik sesama orang Papua saling bunuh membunuh, irih, dengki.
Distribusi dan kontrol distribusi tetap di tangan migran dibawah kontrol Aparat. Akhirnya orang Papua mabuk baru datang ribut di Warung misalnya, dapat hajar dari polisi. Atau terpaksa menjual tanah dengan murah. Elit-elit politik yang dipilih menjaga dan menguntungkan kepentingan ekonomi migran karena di masa kampanye meminjam uang sama mereka.
Rakyat Papua harus sadar bahwa, rakyat bangsa Papua secara sadar sedang dikeluarkan dari sistem produksi kapitalis yang dominan di abad ini. Jika Indonesia mau melibatkan orang Papua mestinya dia menciptakan tenaga produktif (force of production), tenaga-tenaga ahli yang siap memegang mesin produksi, tapi program 1000 dokter yang pernah dibahas mantan gubernur J. P. Solossa, sesuai amanat Otsus digagalkan oleh negara. Bahkan ada cerita orang Papua yang telah belajar tidak ditempatkan untuk memegang mesin produksi.
Kondisi ini kalau dibiarkan, orang Papua tinggal cerita.
Papua harus merdeka!
Bahwa, persoalan mengenai pembangunan teknik, industri dan lainnya persoalan teknis yang kemudian dibangun di alam kemerdekaan. Yang dibutuhkan adalah pembebasan nasional. Sebagai syarat politik.
Ingat! Kolonial di mana pun tidak memberikan kesempatan kepada bangsa jajahan untuk bernafas.
Belum ada tanggapan untuk "Pemekaran Provinsi & Kabupaten (DOB) di Papua Bangun Peradaban Atau Penghancuran?"
Post a Comment