"Kekerasan adalah dukun beranak bagi setaap masyarakat lama yang tengah mengandung masyarakat baru." - Karl Marx.Contoh sehari-hari, seorang perempuankarena tidak tahan dipukul pacarnya, memilih pacar lain yang bisa buat nyaman. Atau seekor Anjing yang sering dipukul tuannya menghidar ktika mencium bauh tubuh tuannya. Masyarakat lama yang ditindas melakukan revolusi untuk tatanan yang lebih baik dsb.
Kekerasan bertubi-tubi terhadap rakyat bangsa Papua sejak 1960-an ibarat sperma yang yang ditanam di janin, dan terus melakukan pembuahan dengan berbagai Operasi Militer sejak ditetapkan status resmi Daerah Operasi Militer (DOP) tahun 1972 - 1998. Sebagai sikap penolakan atas serangkaian kejahatan itu rakyat Papua bersikap skeptis, membuat cerita sindiran, kiasan, tidak mau ikut upacara, mop, lagu, aksi-aksi indiviual, hingga perjuangan bersenjata.
Di tambah lagi pembunuhan di era pasca reformasi hingga di rezim Jokowi ini telah membuat janin itu bertumbuh pesat. Artinya syarat untuk melahirkan bayi itu telah ada. Bukti dari bangkitnya aksi secara nasional dari Raja Ampat - Almasuh, Agustus - September 2019 lalu.
Tapi sayangnya, hukum alam selalu bertolak belakang dengan hukum sosial. Atau individu-individu sebagai makhluk sosial tidak mampu menterjemahkan atau tidak merespon kemauan alam dan kemauan sejarah.
Kenyatan-kenyataan sosial yang tidak mampu mengkorelasikan dengan kondisi obyektif adalah:
Sikap kepala batu, malas belajar dan tidak mau berorganisasi. Massa rakyat tertindas yan tercerai-berai dan tidak terorganisir membuka pintu bagi penjajah untuk masuk menobrak-ambrik. Seberapa besar aksi yan kita lancarkan akan muda dipatahkan. Untuk ini sa kasih contoh: duluh di masa Perbudakan Romawi, budak diperlakukan semena-mena, isri dan anak budak diperkosa. Kerja untuk kerajaan tanpa upah. Anak-anak perempuan cantik memegang loyang saat orang kerajaan kencing. Melihat hidup mereka tersiksa mereka membuat aksi-aksi individual seperti memukul prajurit, akibatnya mereka dicambuk atau dihukum mati. Pemimpin budak terkenal SPARTAKUS yang memimpin ribuan budak menghantam benteng-benteng Romawi pun akhirnya tidak berhasil. Karena basis perlawanannya sentimen, tidak atas kadaan merubah sistm yang menindas.
Politik muka dua atau istilah Bernanda Materay "Nasionalisme Ganda", sikap menjilat dan memilih jalan tengah dengan mencari aman adalah satu segi. Dan segi lainnya adamemlah tidak mau bersatu solah-olah menganggap satu organisasi sendiri memerdekakan Papua dsb.
3. Ideologi
Seperti tadi di contoh SPARTACUS, yang berangkat dari sentimen semata. Ideologi adalah penuntun kemenangan, kalau manusia ideologi ibarat darah atau nafas, Kalau motor ideologi ibarat bensin. Sikap malas tahu dan pemalas itulah yang membuat penindasan bertahan lama. Atau orang bilang "orang Papua adalah orang kuat yang kuat menanggung penderitaan". @@@ Upah di surga jadi...
Jadi, Organisasi - Politik - Ideologi.
Belum ada tanggapan untuk "Faktor Penghambat Papua Merdeka"
Post a Comment